ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN
HAMA ULAT TANAH DAN PENYAKIT LAYU FUSARIUM PADA TANAMAN KENTANG
FITRAH SHAFIRA ULFA
213 160 013
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN, PETERNAKAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PAREPARE
2015
KATA PENGANTAR
Assalamualikum Wr. Wb
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpahan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan ini.
Shalawat dan Salam kita haturkan kepada Nabiullah Muhammad SAW. Sang panutan yang selalu kita rindukan syafaatnya di hari akhir nanti.
Melalui laporan ini penulis juga akan berterima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun secara tidak langsung sehingga laporan ini dapat terselesaikan.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini masih banyak kekurangan baik dari segi materi yang disajikan maupun dari struktur bahasa yang digunakan, itu semua tidak lain disebabkan oleh keterbatasan yang penulis miliki, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik, saran dan koreksi yang membangun dari para pembaca.
Harapan penulis semoga laporan ini dapat memberikan sumbangan yang berarti dan bermanfaat bagi pembaca.
Parepare, 10 Januari 2015
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Tujuan Praktikum 3
1.3. Manfaat Praktikum 3
BAB II KEADAAN UMUM LOKASI KEGIATAN 4
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 6
3.1. Hasil 6
3.1.1. Penyakit Pada Tanaman Kentang (Layu Fusarium) 6
A. Taksonomi 6
B. Sebaran dan Arti Ekonomi 7
C. Morfologi dan Anatomi 7
D. Siklus Hidup 8
E. Ekologi 8
F. Gejala Serangan 9
G. Pengendalian 9
3.1.2. Hama Tanaman Kentang (Ulat Agrotis) 9
A. Taksonomi 11
B. Sebaran dan Arti Ekonomi 11
C. Morfologi dan Anatomi 11
D. Siklus Hidup 12
E. Ekologi 13
F. Gejala Serangan 13
G. Pengendalian 14
BAB IV PENUTUP 15
4.1. Kesimpulan 15
4.2. Saran 15
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
No Teks Halaman
Lampiran
1. Gambar penyakit Layu Fusarium pada tanaman kentang........... 20
2. Gambar hama Kutu kebul pada tanaman kentang...... 20
3. Gambar penyakit tanaman pada komoditas utama 20
4. Gambar tanaman kentang pasca panen 20
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) merupakan segala macam organisme yang mengganggu kehidupan tanaman sehingga menurunkan kualitas dan kuantitas tanaman atau bahkan menyebabkan kematian pada tanaman. Seiring berkembangnya zaman, keanekaragaman hama dan penyakit ikut berkembang, untuk lebih mengetahui perkembangan OPT di lahan pertanian, maka Mahasiswa perlu melakukan survey dan menyaksikan sendiri bagaimana pengaruh OPT bagi petani, oleh karena itu dilaksanakanlah praktek lapang di Malino, tepatnya Desa Buluballea, Kecamatan Pattappang, Kelurahan Tinggi Moncong, Kabupaten Gowa. Selain itu pelaksanaan praktek lapang ini merupakan agenda tahunan di Fakultas Pertanian, Peternakan dan Perikanan Universitas Muhammadiyah Parepare, yang diikuti oleh semua jurusan yang ada, terkhusus untuk semester tiga dan lima. Praktek lapang ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi Mahasiswa untuk mengembangkan pengetahuannya yang diperoleh di bangku kuliah dan membandingkan antara teori yang diterima dengan fakta yang ada di lapangan. Dan yang paling penting praktek lapang ini merupakan syarat kelulusan bagi mata kuliah tertentu, termasuk mata kuliah Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).
Kentang (Solanum Tuberosum L.) adalah tanaman dari suku Solanaceae yang memiliki umbi batang yang dapat dimakan dan disebut “Kentang” pula. Tanaman kentang berasal dari Amerika Selatan dan telah dibudidayakan oleh penduduk di sana sejak ribuan tahun silam.
Tanaman kentang ini merupakan herba (tanaman pendek tidak berkayu) semusim dan menyukai iklim yang sejuk. Di daerah tropis dan cocok ditanam di dataran tinggi. Memiliki bunga sempurna dan tersusun majemuk. Ukuran cukup besar dengan diameter 3 Cm. Warnanya berkisar dari ungu hingga putih.
Menurut sejarahnya, kentang berasal dari lembah-lembah dataran tinggi di Chili, Peru dan Meksiko. Jenis tersebut diperkenalkan Bangsa Spanyol dari Peru ke Eropa sejak tahun 1565. Semenjak itulah, kentang menyebar ke negara-negara lain termasuk Indonesia. Menurut catatan awal di Indonesia, tumbuhan ini mulai ada semenjak tahun 1794, dimulai dengan penanaman di sekitar Cimahi. Semenjak itu kentang dapat ditemui pula di Priangan dan Gunung Tengger. Pada tahun 1812, kentang sudah dikenal dan dijual di Kedu. Sedangkan ,di Sumatera tumbuhan ini sudah dikenal setahun sebelumnya (1811). Kentang tumbuh di pegunungan dengan ketinggian antara 1000-2000 mdpl, pada tanah humus.Tanah bekas letusan gunung berapi yang berstruktur remah lebih disukai.
Di pasaran, kentang dipisah-pisahkan menurut ukurannya dan dinamakan kualitas A, B, C, dan D. Kualitas A adalah yang terbaik. Penyebutan “Kentang kualitas AB” berarti campuran dari kualitas A dan B.
Tanaman kentang tergolong tanaman sangat rentan terhadap serangan hama dan penyakit, baik saat musim hujan maupun musim kemarau. Penanaman kentang di musim hujan sangat rentan terhadap serangan layu fusarium maupun busuk Phytopthora. Sebaliknya ,jika musim kemarau sangat rentan terhadap serangan hama thrips, ulat maupun lalat penggorok daun. Pola tanam tanpa rotasi tanaman serta berlangsung terus- menerus dalam waktu lama akian menyebabkan hama dan penyakit tersebut berpotensi menggagalkan panen di segala musim. Berikut akan saya uraikan tentang salah satu hama dan penyakit yang biasa menyerang tanaman Kentang yaitu Penyakit Layu Fusarium dan Hama Ulat Tanah.
1.2 Tujuan Praktikum
1. Untuk mengetahui beberapa penyakit yang menyerang tanaman Kentang?
2. Untuk mengetahui jenis hama yang menyerang tanaman kentang?
3. Membandingkan teori yang diperoleh di bangku kuliah dengan yang ada di lapangan ?
1.3 Manfaat
1. Dapat mengetahui penyakit yang menyerang tanaman kentang.
2. Dapat menyelesaikan masalah petani kentang terkait dengan hama pada tanaman kentang.
3. Mengaplikasikan materi di bangku kuliah langsung ke lapangan.
BAB II. KEADAAN UMUM LOKASI PKL
2.1 Keadaan Lokasi Praktek Lapang
Lokasi praktek lapang yang dilaksanakan di Desa Buluballea, Kel. Pattappang, Kec. Tinggi Moncong, Kab. Gowa terletak di pegunungan dengan ketinggian ±1.500 M di atas permukaan laut dengan kisaran suhu 24˚C dengan jenis tanah ,tanah liat berpasir/berdebu. Di sebelah Utara Desa Buluballea berbatasan dengan Desa Tonasa’ dan Desa Ere Lembang, bagian Timur berbatasan dengan Desa Kanreapia, bagian Selatan berbatasan dengan Gunung Bawakaraeng dan Desa Bulutana, sedangkan pada bagian Barat berbatasan dengan Desa Bulutana.
Dari data di Kantor Kelurahan Desa Buluballe diketahui bahwa jumlah penduduk Desa Buluballea ±2717 dengan jumlah wanita ±1411 dan Pria sebanyak ±1306. Mata pencaharian utama penduduk adalah Petani dengan mayoritas agama 98% Islam.
Desa Buluballea memiliki tanaman komoditas utama yaitu Kentang, Wortel dan Tomat. Selain komoditas utama tersebut ada juga tanaman lain yang dibudidayakan seperti Kubis, Daun Bawang dan Strawberry.
2.2 Kondisi Pertanaman di Lokasi
Desa Buluballea terkenal dengan tanaman holtikulturanya seperti Kentang, Wortel, Tomat, Kubis dll. Petani biasanya dapat memanen 5-7 ton/Ha sekali panen, dan biasanya mereka melakukan panen 2-3 X dalam setahun. Dengan penjualan Rp. 8.000-Rp.10.000/Kg. Namun hasil yang dicapai para Petani tidak selalu tetap. Adakalanya hasil panen menurun dari hasil yang dicapai pada panen sebelumnya. Hal tersebut dapat terjadi karena adanya peningkatan hama dan penyakit.
Hama-hama yang menyerang tanaman komoditas utama adalah Lalat penggorok daun,Lalat Putih dan Ulat Tanah. Sedangkan pada tanaman budidaya antara lain Flutella benang,Ilustallum, dan Korosi dolom. Adapun jenis penyakit yang biasanya menyerang yaitu Hawar Daun, Busuk Hitam dan Layu Fusarium. Sebenarnya ada juga Parasitoid yang ditemukan di lokasi namun populasinya sangat kecil karena penggunaan pestisida yang berlebihan sehingga parasitoid tadi lebih memilih untuk hinggap di gulma daripada komoditi utama.
Petani di Desa Bulubaballea juga menerapkan tekhnik pengendalian mulai dari penggemburan, pembumbuman dengan tujuan tanaman menghasilkan umbi yang maksimal dan agar tidak mudah rebah. Penyemprotan menggunakan pestisida kimiawi, ada juga sebagian kecil petani yang menggunakan Pestisida nabati.
Adapun kendala yang dirasakan oleh petani dari mulai penanaman sampai panen yaitu cuaca. Cuaca dikatakan sebagai penghambat bagi mereka, karena susah untuk diprediksi, sehingga mereka sulit untuk melakukan penanggulangan sewaktu waktu cuaca sedang tidak mendukung, baik itu pada proses penanaman maupun panen.
BAB III. HASIL
3.1. Hasil
Hasil yang di dapatkan dari praktikum Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) adalah proses kegiatan pertanian kerap kali mengalami kendala yang menghambat proses produksi. Kendala yang kerap kali menghampiri petani di desa Bullu Bellea, Kel. Pattapang, Kec. Tinggi Moncong, Kab. Gowa adalah kehadiran hama dan penyakit yang kerap kali menggerogoti tanaman mereka seperti hama Ulat Tanah (Agrotis Ipsilon) dan penyakit pada komoditas utama (Layu Fusarium / Fusarium oxisporium) pada tanaman kentang.
3.1.1 Penyakit Layu Fusarium pada Tanaman Kentang
1. Taksonomi
Kingdom : Fungi
Filum : Ascomycota
Kelas : Sordariomycetes
Ordo : Hypocreales
Genus : Fusarium
2. Sebaran dan Arti Ekonomi
Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Fusarium oxisporium. Penyakit layu fusarium kentang merupakan penyakit penting dan endemik di sentra-sentra pertanaman kentang di Provinsi Jawa Tengah (Kabupaten Wonosobo, Temanggung, Banjarnegara dan Magelang). Fusarium oxisporium merupakan salah satu penyakit yang paling ditakuti, Penyakit Fusarium oxisporium merupakan penyakit yang paling ditakuti, terutama oleh petani holtikultura karena berpotensi menimbulkan kerugian besar. Bahkan tidak jarang penyakit ini menjadi penyebab kegagalan budidaya. Pada tingkat serangan tinggi, penyakit layu fusarium bisa menghabisi seluruh tanaman, terutama terjadi pada musim hujan dan areal pertanaman yang mudah tergenang air.
3. Morfologi dan Anatomi
Jamur Fusarium oxysporum memiliki struktur yang terdiri dari mikronidia dan makronidia. Permukaan koloninya berwarna ungu dan tepinya bergerigi serta memiliki permukaan yang kasar berserabut dan bergelombang. Di alam jamur ini membentuk konidium. Konidifor bercabang-cabang dan makronidium berbentuk sabit, bertangkai kecil dan seringkali berpasangan. Miselium terutama terdapat di dalam sel khusus di dalam pembuluh, juga membentuk miselium yang terdapat diantara sel-sel yaitu di dalam kulit dan di jaringan parenkim di dekat terjadinya infeksi. Fusarium Oxysporium adalah fungi aseksual yang menghasilkan 3 spora yaitu :
• Makronidia, berbentuk panjang melengkung, dikedua ujung sempit seperti bulan sabit, terdiri dari 3-5 sel dan biasanya ditemukan di permukaan.
• Mikronidia, spora dengan 1-2 sel yang dihasilkan fusarium pada semua kondisi dan dapat menginfeksi tanaman. Mikronidia memiliki bentuk yang bulat sampai oval, uniseluler dan tidak berwarna.
• Klamdiospora, spora dengan sel selain diatas, dan pada waktu dorman dapat menginfeksi tanaman. Sporanya dapat tumbuh di air.
4. Siklus Hidup
Jamur Fusarium oxisporium dalam daur hidupnya mengalami fase patogenesis dan saprogenesis. Pada fase patogenesis, jamur hidup sebagai parasit pada tanaman inang yang dimulai pada saat patogen mulai masuk dan memarasit inang. Apabila tidak ada tanaman inang, patogen dapat bertahan sebagai saprofit pada sisa tanaman, dan bertahan di dalam tanah dalam jangka waktu yang tidak terbatas. Penyebaran penyakit dapat melalui bermacam luka untuk jalan infeksinya, misalnya luka karena pemindahan bibit, pembumbunan,serangga atau nematoda. Penyebaran jarak jauh dapat melalui pemindahan tanaman sakit atau tanaman yang terinfeksi.
5. Ekologi
Cendawan Fusarium oxysporium bersifat polifag, memiliki banyak tanaman inang, terutama tanaman sayuran. Beberapa jenis tanaman yang paling rentan terhadap serangan penyakit ini adalah Kentang, Tomat, Kubis, Cabai, Seledri dll. Tidak jarang penyakit layu fusarium menghabisi areal pertanaman kentang, terutama saat kentang memasuki mas pertumbuhan 40-60 hari.
6. Gejala Serangan
Serangan cendawan Fusarium oxysporium ditandai dengan gejala menguningnya daun-daun tua yang kemudian menjalar ke atas. Tulang daun memucat dan berwarna keputihan. Tanaman terkulai karena penyerapan unsur hara maupun air tidak bisa dilakukan. Hal ini disebabkan karena berkas pembuluh pengangkut membusuk. Jika menyerang pembibitan, tunas tiba-tiba layu dan mati.
7. Pengendalian
Layu Fusarium dapat dikendalikan melalui :
• Pengendalian Teknis
Lakukan penggiliran tanaman dengan tanaman yang tidak rentan terhadap serangan Fusarium oxysporium. Pengolahan lahan dengan pencangkulan dan pembalikan tanah, agar bibit penyakit terkena sinar matahari. Pengapuran lahan untuk meningkatkan pH tanah, pada pH mendekati normal, cendawan tidak begitu aktif menyerang. Jaga kelembapan di areal pertanaman,hindari adanya genangan air yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan spora.
• Pengendalian Mekanis
Sanitasi kebun untuk menjaga kelembapan areal pertanaman. Penyiangan secara rutin terhadap gulma atau tanaman pengganggu. Musnahkan tanaman terserang, usahakan agar tanah pada tanaman terserang tidak tercecer. Masukan tanaman dalam wadah agar tanahnya tidak tercecer. Beri kapur pada bekas tanaman yang dicabut.
• Pengendalian Organik
Sebagai pencegahan, secara biologi dapat diberikan trichoderma pada saat persiapan lahan, pada umur 25 hst, 40 hst dan 70 hst dilakukan pengucuran dengan pestisida organik pada tanah mis. Wonderfat sesuai dengan dosis anjuran pada kemasan. Dapat juga dilakukan pengucuran dengan rebusan air serai atau bawang putih setiap 7 hari sekali.
• Pengendalian Kimiawi
Meskipun cendawan ini tergolong resisten terhadap bahan aktif pestisida, tetapi tidak ada salahnya mencoba aplikasi fungisida sistemik berbahan aktif benomil, metaksil atau promokarb hidroklorida dengan dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan. Lakukan penyemprotan secara rutin minimal 7 hari sekali.
3.1.2 Hama Ulat Tanah Pada Tanaman Kentang
1. Taksonomi
Klasifikasi : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Lepidoptera
Famili : Noctuidae
Genus : Agrotis
Spesies : Agrotis Ipsilon
2. Sebaran dan Arti Ekonomi
Menyebar ke dataran tinggi penghasil sayuran di Jawa dan Sumatra, sejak tahun 1998 telah ditemukan pula di Sulawesi Selatan. Liriomyza spp. menyebabkan kerusakan dengan cara memotong tanaman pada pangkal batang dan mengakibatkan munculnya lubang yang tidak beraturan pada daun-daun muda, sehingga tanaman bisa mati muda. Kehilangan hasil akibat serangan hama ini dapat mencapai 75 % pada beberapa tanaman (seperti kentang dan buncis) bahkan dapat menyebabkan kerusakan total pada kentang (Helda Obari, 2001)
3. Morfologi dan Anatomi
Ngengat Ulat Tanah berwarna coklat tua dengan beberapa titik-titik putih bergaris dan di bagian depannya berwarna abu-abu atau pucat. Panjang tubuh sekitar 2,2 Cm dan panjang sayap sekitar 40-50 mm. Lama hidup 7-14 hari. Ngengat muda mampu menghasilkan 500-2.500 butir telur.
4. Siklus Hidup
Siklus Hidup Hama Ulat Agrotis yaitu :
a. Telur
Ngengat meletakkan telurnya yang berwarna putih kekuning-kuningan yang akan berubah menjadi kuning kehijau-hijauan dalam bentuk kluster pada bagian bawah permukaan daun yang muda pada cabang tanaman yang dekat dengan permukaan tanah, jumlah telur yang dihasilkan per imago betina berkisar antara 350-500. Telur akan menetas sekitar 10 hari.
b. Larva/ Ulat
Pada instar pertama berwarna kuning pucat dan pada instar selanjutnya menjadi hijau kekuning-kuningan, ulat ini nterdiri dari 5 instar dan berlangsung selama 23 hari. Larva instar terakhir pada saat akan berkepompong mulai berheni makan dan ulat turun ke permukaan tanah untuk berkepompong.
c. Pupa
Larva instar terakhir sebelum berkepompong akan berhenti makan dan turun ke permukaan tanah dengan bantuan benang sutra yang dihasilkannya. Ulat akan membungkus dirinya dengan butiran-butiran tanah atau serpihan-serpihan serasah yang ada di permukaan dengan bantuan benang-benang suteranya. Stadium pupa berkisar 8 hari.
d. Ngengat
Serangga dewasa berbentuk ngengat yang aktif pada waktu malam. Ngengat betina dapat meletakkan telur sebanyak 350-500 butir . Stadium ngengat berkisar sekitar 4 hari.
5. Ekologi
Ulat tanah atau Agrotis Ipsilon Hufn merupakan hama yang senang menyerang sayuran muda, termasuk Kentang. Inang utama Ulat Tanah adalah Kentang, Kubis, Tomat, Jagung, Tembakaubdan Kacang-kacangan. Ulat ini menyerang ketika berbentuk ngengat.
6. Gejala Serangan
Ulat Tanah menyerang tanaman Kentang yang berumur 2-5 minggu setelah tanam. Serangannya ditandai dengan terpotongnya tanaman pada pangkal batang dan munculnya lubang yang tidak beraturan pada daun-daun muda, sehingga tanaman bisa mati muda.
Ulat Tanah aktif pada malam hari, sementara siang hari bersembunyi di dalam tanah di sekitar tanaman muda dan bongkahan bongkahan tanah kering. Karena itu, Ulat Tanah biasanya menyerang tanaman Kentang pada pukul 17.00. Serangan puncaknya biasanya terjadi pada saat musim kemarau.
7. Pengendalian
Ulat Tanah bisa diatasi dengan cara sebagai berikut :
• Cara Mekanis, yakni dengan mengumpulkan dan memusnahkan Ulat Tanah yang ada pada malam hari ketika Ulat Tanah mulai aktif. Selain itu, memelihara kebersihan areal budidaya dari sisa-sisa tanaman, seperti kacang-kacangan, kentang, kubis dll. Bisa juga menggunakan umpan beracun yang terbuat dari 10 Kg dedak, 1 Kg gula merah, campur dengan 100 ml Diazinon 60EC.
• Cara Hayati, yakni dengan memanfaatkan musuh alami ulat tanah, baik jenis parasitoid, patogen, maupun predator. Jenis parasitoid berupa apanteles ruficrus, goniophana heterocera, cuphocera varia, dan tritaxys barueri. Lalu jenis patogen berupa botrytis sp., Jamur metharizium sp., dan nematoda steinernema sp. Sementara itu predator dari famili carabidae.
• Cara Kimiawi, yakni dengan melakukan kucuran menggunakan pestisida jenis insektisida dengan dosis yang sesuai pada label.
BAB IV. PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Gejala penyakit tumbuhan sangat perlu diketahui untuk membedakan dengan gejala yang disebabkan oleh hama tumbuhan. Gejala penyakit tumbuhan timbul sebagai akibat masuknya patogen ke dalam jaringan tumbuhan dan menyebabkan terjadinya infeksi sehingga menyebabkan terjadinya perubahan pada sel atau jaringan tumbuhan. Sedangkan Hama adalah semua binatang yang mengganggu dan merugikan tanaman yang dibudidayakan manusia karena organisme pengganggu tanaman merupakan hal yang lumrah dalam pertanian
Dari hasil pengamatan yang dilakukan di lapangan kita dapat melihat bagaimana dampak hama dan penyakit dan juga mengetahui bahwa hama dan penyakit sangat merugikan bagi petani, baik itu dari segi kualitas maupun kuantitas.
4.2 Saran
Mahasiswa peserta PKL juga diharapkan meresapi dan merenungkan apa yang mereka dapatkan dari kegiatan ini.Semoga kegiatan ini tidak sekedar dijadikan sebagai sarana rekreasi bagi mahasiswa,melainkan menjadikannya sebagai sarana menggali ilmu secara realitas
Sebaiknya praktek lapang ke depannya diadakan di daerah yang tidak terlalu jauh, selain hemat juga praktis. Dan juga sebaiknya tidak dicampur antara senior dan junior sebab dapat memicu timbulnya perselisihan akibat perbedaan pendapat dan selera.
DAFTAR PUSTAKA
Ardiansyah, 2007.Pengenalan penyakit pada tanaman kol (Edisi Kedua) Gadjah Mada University,Yogyakarta.
Diana-Daud, 2002 Entomopatogen Beauveria bassiana Sebagai Pengendali Organisme Tanaman. Farm world Press,Bandung.
Hera,2007 Ilmu Penyakit Tumbuhan (Edisi Ketiga) Gadjah Mada Univerisity Press, Yogyakarta.
Novizan, 2002 Belajar mengendalikan Hama dan penyakit pada tanaman holtikutur.Gudang Ilmu Tani Press.Bandung
Schumetterer, 1995 The World of The Jungle Agricultur .Agricultur Press.Bandung.
LAMPIRAN
Gambar 1. Layu Fusarium pada Gambar 2. Hama ulat tanah
tanaman kentang
Gambar 3. Penyakit tanaman pada Gambar 4. Tanaman Kentang
komoditas utama pasca panen